Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Follow Us On :
logo_fix
Hubungi Kami
KOTA BANJARMASIN 500 TAHUN: SUNGAI ADALAH JIWA PERADABAN KITA

Pendahuluan

Menyongsong usia 500 tahun, Banjarmasin bukan sekadar mencatat jumlah tahun yang berlalu. Ini adalah momen perenungan: dari mana kita datang, apa yang menjaga kita berdiri, dan ke mana arah langkah kita ke depan. Selama lima abad ini, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah daratan—ia adalah nadi yang mengalirkan kehidupan, akar yang menancapkan identitas, dan cermin yang memantulkan jati diri warganya. Tanpa sungai, Banjarmasin hanyalah nama di peta. Dengan sungai, Banjarmasin adalah sebuah peradaban yang hidup dan bernyawa.

1. BANJARMASIN TIDAK BOLEH MENINGGALKAN SUNGAI SEBAGAI PERADABANNYA

Sejarah mencatat: leluhur kita memilih menetap bukan karena tanah yang luas semata, melainkan karena kehadiran sungai yang memberi makan, memberi minum, dan memberi jalan. Peradaban Banjar lahir di atas perahu, tumbuh di tepian air, dan berkembang berkat aliran sungai. Maka sungai tidak bisa kita anggap sebagai sisa masa lalu yang harus ditinggalkan demi kemajuan zaman. Meninggalkan sungai berarti memutus tali pusar sejarah kita. Kita boleh membangun gedung tinggi, jalan lebar, dan jembatan megah—tetapi pondasi peradaban ini tetaplah air sungai yang mengalir tenang namun tak pernah berhenti memberi kehidupan.

2. TRANSPORTASI SUNGAI HARUS MENJADI PRIORITAS PEMBANGUNAN

Di tengah kemacetan dan biaya pemeliharaan jalan darat yang kian memberatkan, sungai justru menawarkan jalan yang lebih luas, lebih murah, dan lebih ramah lingkungan. Kita memiliki ribuan kilometer aliran air yang terhubung satu sama lain, namun seringkali kita biarkan ia sunyi dan terabaikan. Pembangunan Banjarmasin ke depan harus menempatkan transportasi sungai sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap. Perbaikan dermaga, penyediaan angkutan air yang teratur, aman, dan nyaman, serta pengaturan jalur sungai yang rapi akan mengembalikan kemegahan masa lalu sekaligus menjawab tantangan mobilitas masa depan. Sungai adalah jalan raya alami yang Allah sediakan cuma-cuma bagi kita.

3. MENJAGA SUNGAI DARI SEGALA BENTUK KERUSAKAN

Menjaga sungai bukan sekadar ucapan yang indah, melainkan tindakan nyata yang harus dilakukan setiap saat.

  • Bebas Sampah: Sungai bukan tempat pembuangan. Setiap bungkus makanan, sisa bangunan, atau limbah rumah tangga yang kita buang ke air, pada akhirnya akan kembali mengancam kita sendiri—melalui banjir, penyakit, dan kerusakan ekosistem.
  • Menjaga Kesucian Lingkungan: Menjauhkan sungai dari perilaku yang merusak keseimbangan alam, seperti membuang limbah cair sembarangan, merusak tanaman penahan tebing, atau mengubah aliran air tanpa perhitungan matang.
  • Kesadaran Bersama: Menjaga sungai adalah menjaga diri sendiri, keluarga, dan keturunan kita nanti. Jika sungai sakit, maka seluruh kehidupan di tepiannya pun akan menderita.

4. SUNGAI ADALAH AKAR BUDAYA YANG TAK BOLEH DIPUTUS

Semua yang kita banggakan sebagai orang Banjar lahir dari sungai: kuliner yang khas, senandung pantun yang syahdu, kerajinan tangan yang unik, hingga cara bergaul yang ramah dan terbuka. Pasar terapung, jukung, dan tradisi turun-temurun tak akan ada jika tak ada aliran air yang menghidupinya. Sungai adalah identitas yang membedakan kita dari bangsa lain. Jika kita membiarkan sungai kotor dan mati, kita sama saja dengan mengubur budaya kita sendiri. Kita tetap maju, tetap modern—tetapi tetap harus mengenali siapa diri kita dan dari mana asalnya.

5. MENJAGA SUNGAI DENGAN SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM

Menjaga sungai bukan pekerjaan yang selesai dalam sehari, setahun, atau sepuluh tahun. Ini adalah tugas abadi yang harus kita emban sepanjang Banjarmasin masih berdiri. Tanpa rasa lelah, tanpa alasan untuk berhenti, dan tanpa mengandalkan orang lain semata. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan teruskan tanpa henti sampai ke generasi anak cucu kita. Kelestarian sungai adalah bukti rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah menganugerahkan berkah luar biasa ini selama 500 tahun, dan adalah tugas kita agar berkah itu tak terputus sampai 500 tahun lagi, dan seterusnya.

KESIMPULAN

Menyongsong usia setengah milenium, mari kita tekadkan bersama: Banjarmasin adalah kota sungai, dan akan tetap menjadi kota sungai. Kita tidak akan membiarkan sungai hanya menjadi kenangan di cerita nenek moyang. Kita akan menjadikannya tulang punggung pembangunan, jalan penghubung kemajuan, cermin kebersihan, dan pelindung budaya kita.

Lindungilah sungai sekuat tenaga, karena sungai bukan milik kita semata—ia adalah titipan Tuhan yang harus kita rawat, dan warisan berharga yang akan kita serahkan kepada anak cucu kelak. Selama sungai masih mengalir jernih, selama itulah peradaban Banjarmasin akan terus hidup, bersinar, dan abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *